
SAAT JAHITANKU HARUS DIBONGKAR ULANG
Ini kehamilanku yang ketiga. Meskipun di Jakarta banyak dokter kandungan perempuan, tapi ibu dokter kandungan yang satu ini sangat laris. Dokter Ria Jayanti, Sp.O.G., yang berpraktek di klinik SEHATI, klinik yang dibangun berdua dengan suaminya yang kebetulan juga seorang dokter bedah tulang.
Setiap aku ingin memeriksakan kandunganku di malam hari (karena siangnya aku dan suami bekerja), aku harus sengaja datang lebih awal untuk mendapatkan nomor urut agar nantinya tidak antri terlalu lama. Itu pun harus konfirmasi terlebih dahulu lewat telepon sejak pagi untuk mendapatkan ’kuota’ periksa hari itu. Pasiennya dalam semalam bisa mencapai tiga puluhan, dan itu baru selesai sekitar jam sebelas malam!
Pernah, aku agak telat mendaftar, baru datang ke klinik Sehati kurang lebih jam tujuh malam. Ternyata aku mendapatkan nomor urut dua puluh dua. Halah, padahal dokternya baru saja mulai praktek. Setiap pasien diperiksa sekitar seperempat jam. Waduh, lalu jam berapa giliranku? Untunglah, rumah adik iparku tidak terlalu jauh dari klinik Sehati. Aku memutuskan untuk istirahat saja dulu di rumah adik, lalu sekira jam sepuluh balik lagi ke klinik tersebut.
Tepat jam sepuluh malam, aku balik lagi ke klinik, menunggu dua pasien diperiksa, lalu tibalah giliranku. Ini pemeriksaan untuk minggu keempat puluh, usia sangat matang untuk melahirkan. Seperti dua kehamilanku sebelumnya, meski usia kehamilan sudah empat puluh pekan, tanda-tanda kontraksi tak kunjung datang. Bahkan cuma kontraksi palsu (Braxton Hicks) pun tak kurasakan. Biasanya, aku melahirkan mundur sepekan sampai sepuluh haru dari Hari Perkiraan Lahir (HPL).
Setelah dilakukan pemeriksaan dalam dan USG, ternyata di rahimku mulai terjadi pengapuran, sehingga dokter Ria memutuskan supaya aku meminum pil untuk merangsang kontraksi, pil citotek. Aku diberikan dua pil, yang satu diminum langsung saat itu juga, dan satu kapsul lagi diminum lima jam kemudian. Jika tetap tidak terjadi tanda-tanda kontraksi, dokter Ria menyarankan supaya esok hari aku datang ke klinik lagi karena akan dilakukan tindakan perangsangan kontraksi dengan cara lain.
Sepulang dari klinik, aku mencoba tidur, tapi ternyata tidak bisa terlelap. Mulas? Tidak juga. Ada rasa mulas sedikit tapi justru terasa di perut bagian atas, tidak pindah ke bagian bawah. Lima jam kemudian, aku telan pil perangsang yang kedua, lalu mencoba tidur lagi. Tetap seperti sebelumnya, tidak bisa tidur dengan nyenyak. Mulas tetap cuma terasa di bagian atas, sama sekali bukan kontraksi. Kan ini kehamilanku yang ketiga, aku sudah bisa membedakan mana mulas biasa dan yang mana mulas menjelang melahirkan.
Pagi hari jam delapan, berhubung belum ada tanda-tanda kontraksi sama sekali, aku dan suami bersiap-siap ke klinik Sehati. Tak lupa kubawa satu tas travel ukuran sedang perlengkapan untuk persalinan, yang jauh-jauh hari sudah kusiapkan.
Sampai di klinik tersebut aku menyerahkan surat pengantar dari dokter Ria pada bidan Ana. Surat pengantar itu dibuat semalam, yang isinya tindakan medis yang perlu dilakukan padaku jika aku datang. Bidan Ana memintaku untuk tidur, dan aku diberi obat perangsang mulas lagi, tapi kali ini dari bawah (vaginal).
Karena aku tak betah duduk diam menunggu, aku minta ijin pada bidan Ana untuk menunggu mulas sambil berjalan-jalan di sekitar klinik, dan dia mengiyakan. Ditemani suami, aku berjalan-jalan santai, pikirku sambil memperlancar jalannya persalinan kalau nanti sudah saatnya kontraksi. Tapi, tunggu punya tunggu, sampai azan zuhur berkumandang, tetap saja aku belum merasakan apa-apa. Bahkan kami berdua masih sempat makan siang di sebuah restoran dekat klinik.
Usai makan siang, kami berdua balik lagi ke klinik, dan bidan Ana tampak kaget melihat aku masih ’gagah’ saja, tak ada tanda-tanda mulas sedikit pun. Hmm, aku sendiri juga sudah agak pesimis obat itu ada efeknya, karena dua persalinan sebelumnya selalu post partum (lewat dari perkiraan), dan selalu dibantu dengan induksi supaya aku mengalami kontraksi.
Bidan Ana segera menelpon dokter Ria, yang kemudian menginstruksikan untuk mulai memberikan infus induksi padaku. Tapi aku minta waktu untuk sholat dhuhur dulu. Setelah sholat dhuhur, mulailah dipasang botol infus yang berisi cairan perangsang itu. Setetes demi setetes, aku masih segar bugar. Bahkan sholat Ashar, Maghrib dan Isya dapat kulakukan dengan gerakan biasa, dibantu suami yang memegangi botol infus. Hihihi lucu juga. Sambil menunggu datangnya mulas di pembaringan, aku banyak membaca buku dan majalah yang memang sudah kusiapkan, atau mengobrol ringan dengan suami. Tak lama, aku mempersilakan suami untuk tidur saja dulu, karena aku juga tak tahu kapan rasa mulas itu akan datang.
Satu botol infus sudah habis, disambung botol infus yang kedua. Sampai setengah dari botol infus kedua sudah habis, tetap belum ada reaksi dari tubuhku. Aku pasrah, karena dokter Ria pernah mengatakan, jika dua botol infus untuk induksi tak ada pengaruh, terpaksa dilakukan sectio. Hmm, padahal selama ini aku selau melahirkan dengan normal, meski selalu dibantu induksi.
Tapi, Subhanallah, sekitar jam satu malam, saat cairan infus dari botol kedua hampir habis, tiba-tiba aku mulai merasakan mulas yang sangat. Jamaknya induksi, begitu sudah mulas, nyerinya luar biasa dan hampir tak ada jeda, konrtraksinya terus-menerus, sambung menyambung menjadi satu. Kata teman yang pernah melahirkan dengan normal baik dengan atau tanpa induksi, mulas buatan dengan induksi jauh lebih menderita dari pada mulas alami. Aku sendiri malah belum tahu rasanya mulas alami, karena persalinan sebelumnya juga harus diinduksi.
Satu hal yang jelas kurasakan, begitu mulas datang, rasanya seperti ikan yang megap-megap kehabisan air, kesulitan mengatur nafas di sela-sela kontraksi yang menguat. Maka, pijatan di punggung oleh suami yang setia menemaniku menjadi penghibur yang cukup ampuh. Aku juga mencoba membiasakan diri dengan ’menghayati’ sakit tersebut sambil terus berdoa, hal yang biasa kulakukan sejak persalinanku yang pertama. Alhamdulillah, jadi terasa jauh lebih ringan.
Beberapa kali bidan Ana memeriksaku untuk mengecek kemajuan pembukaan di mulut rahim. Mulai pembukaan keenam, aku merasakan kesakitan luar biasa karena sudah sangat ingin mengejan tapi belum diperbolehkan, pembukaan belum sempurna. Bidan Ana yang baik hati itu juga kadang-kadang memberikan aba-aba setiap aku tampak keteteran saat datangnya kontraksi yang bertubi, ”Tarik nafas lewat hidung... keluarkan lewat mulut. Terus bu. Tarik nafas... Keluarkan. Tarik nafas... keluarkan”.
Aku menanyakan padanya, kapan dokter Ria akan datang. Meskipun aku tahu rumah dokter Ria ada di belakang klinik tersebut, tetapi aku khawatir kemajuan pembukaanku berjalan cepat, bisa-bisa keburu brojol sebelum beliau datang. Bidan Ana mengatakan dokter Ria sedang menuju klinik.
Jam setengah tiga pagi, pembukaan delapan. Kulihat pintu kamar bersalin dibuka, ternyata dokter Ria. Legalah hatiku. Begitu datang, beliau langsung memerintahkan bidan Ana dan para perawat untuk memasang kaki-kaki tempat berpijak lututku saat mengejan. Hmm, sebentar lagi, tiba saatnya, batinku.
”Sudah hapal kan mbak, gimana caranya mengejan yang benar? Kan sudah anak ketiga,” tanya dokter Ria.
”Duh, sudah agak lupa bu. Sudah lima tahun gak punya bayi. Bisa dijelaskan lagi, bu?” jawabku tak yakin.
Bidan Ana tersenyum, lalu dia menjelaskan panjang lebar. Mengejan harus menunggu datangnya ’ajakan’ dari tubuh yaitu saat kontraksi, kedua tangan memeluk kedua lutut, kepala dan pandangan diarahkan ke bawah, dan diusahakan mengejan tanpa suara, tapi berkonsentrasi pada usaha mengeluarkan bayi.
Pembukaan lengkap. Saatnya berjuang mengeluarkan bayi. Pengalaman sebelumnya, yang kurasakan sangat sakit justru masa-masa kontraksi menjelang pembukaan lengkap tadi. Tapi kalau urusan mengejan, bagiku malah melegakan. Aku bersiap. Sambil mengucapkan doa ”Hasbunallah wa nik’mal wakiil” bayi berhasil kukeluarkan dalam tiga kali mengejan. Alhamdulillah, lancar.
Oeeek... oeeek, tepat pukul tiga dini hari, kudengar suara tangis bayi mungilku. Subhanallah seorang bayi perempuan cantik dengan rambut tebal bergelombang, yang kelak kuberi nama dia: Kalifa Firdausy Fahrin. Alhamdulillah, selamat datang nak .
Dokter Ria meminta perawat untuk mengurusi bayi, sementara beliau dibantu bidan Ana menyelesaikan pekerjaan untuk mengeluarkan plasenta, lalu menjahit bagian kulit yang robek. Tak terlalu lama, karena tadi juga sempat kudengar suara ”kress...kress” sesaat sebelum mengejan. Itu artinya dokter Ria melakukan episiotomi, pengguntingan kulit secara sengaja untuk memudahkan jalan keluarnya bayi. Lebih baik sengaja digunting, dari pada robeknya tidak beraturan sehingga menyulitkan saat harus dilakukan penjahitan. Begitu kata literatur kedokteran yang kubaca.
Doker Ria cukup telaten. Sambil menjahit, aku diperkenankan melakukan inisiasi dini, mulai membelajarkan adik bayi menyusui. Tapi bayi mungil ini rasanya tak perlu belajar terlalu lama, karena ternyata dalam waktu sekejap dia sudah ’rakus’, terus-menerus menyusu. Ini agak berbeda dengan dua kakaknya, yang pada hari pertama kelahirannya tidak terlalu ingin menyusu. Alhamdulillah. Bahkan, saat kontrol pada siang harinya dan aku berkata padanya, ”Wah, heran nih Bu, bayinya menyusu terus gak berhenti sejak lahir tadi”.
”Lho, memang tugas bayi kan cuma dua mbak, menangis dan menyusu. Alhamdulillah kan, berarti ini bayi yang pintar. Ya dik yaa” jawab dokter Ria sambil tersenyum dan mencolek pipi adik bayi.
Sepekan kemudian, saat aku kontrol, beliau dengan telaten menjelaskan berbagai alternatif alat untuk pengaturan jarak kelahiran, dan menanyakan caraku mengatur jarak kelahiran selama ini. Saat kujawab bahwa aku menggunakan metode alami saja, beliau tersenyum bijak.
”Tidak masalah, asal kedisiplinannya dijaga” katanya mengingatkan.
Beliau juga menjelaskan bahwa jatahku untuk melahirkan normal (dengan asumsi harus induksi lagi) tinggal satu kali lagi. Aku baru paham, ternyata seperti halnya sectio, melahirkan dengan induksi pun ada batasnya. Kata beliau, tubuhku makin lama makin kebal dengan zat perangsang sehingga dikhawatirkan obat induksi tidak efektif. Hal itu sudah terlihat kemarin, untuk persalinan yang ketiga aku baru bisa merasakan kontraksi saat cairan botol infus yang kedua hampir habis.
Hari berganti. Sudah sebulan melahirkan, tapi anehnya aku masih merasakan nyeri yang sangat di tempat bekas jahitan. Bergerak sedikit saja rasanya nyeri. Apalagi kalau gerakannya buru-buru. Berjalan juga harus pelan-pelan. Padahal biasanya, luka bekas jahitan itu sudah mulai membaik masuk pekan kedua melahirkan. Ada apa ini?
Penasaran, aku mencoba bertanya ke mbak Fath, bidan tetanggaku. Setelah dia periksa, ternyata menurutnya ada bagian dari bekas jahitanku yang belum menutup sempurna, sehingga justru ada jaringan di bawah kulit yang terdesak keluar. Kaget juga aku, karena pada waktu kontrol sepekan setelah persalinan, dokter Ria mengatakan jahitanku bagus, masih belum kering tapi sudah mulai merapat. Eh, kok tiba-tiba ternyata begini. Mbak Fath menyarankan agar aku segera kontrol lagi ke dokter Ria, untuk dilakukan tindakan medis seperlunya.
Esok harinya, aku datang ke klinik dokter Ria. Setelah diperiksa, dokter Ria memutuskan untuk dilakukan bongkar jahitan dan dijahit ulang. Istilah medisnya ”ekstirpasi”. Jadi kelenjar yang melesak keluar itu dipotong, lalu dibuat sayatan baru dan dijahit ulang. Huhuhu, baru mendengar kata dibongkar jahitan saja perutku mendadak agak mulas. Mana aku periksa sendirian, karena suamiku cuma mengantar lalu berangkat ke kantornya.
Aku bertanya kenapa ada kasus seperti ini, karena jarang sekali mendengar ada kasus serupa. Tapi kata dokter Ria, kasus seperti ini cukup banyak, dan sulit untuk diketahui di pekan pertama kontrol pasca persalinan.
”Bismillah, gak apa-apa ya mbak. Masih bagus lho mbak Ning ke sini masih akhir masa nifas, jadi belum sempat campur. Soalnya bahaya banget kalau sudah campur tapi ada kasus begini, bisa terjadi pendarahan hebat” kata dokter Ria menjelaskan resikonya.
Tak ada pilihan lain, aku menurut saja diajak masuk kamar tindakan. Dibius lokal, dibantu bidan Ana, dilakukanlah ekstirpasi. Ternyata sakitnya tak seseram yang kubayangkan. Tentu saja, kan aku dibius. Cuma saat dijahit terasa sangat sakit, sampai beberapa kali aku mengaduh. Padahal biasanya, saat dijahit pasca melahirkan, aku tidak terlalu merasa sakit. Hmm, mungkin berbeda ya, karena usai melahirkan, sebelumnya kan aku sudah merasakan nyeri kontraksi yang luar biasa, sehingga nyeri saat kulit dijahit tak begitu terasa. Tetapi sekarang, tidak ada rasa nyeri apa pun, tiba-tiba ada operasi kecil jahit-menjahit kulit, jadi ambang batas sakitku belum terbiasa.
Untunglah operasi kecil itu tak berlangsung lama. Setelah kuselesaikan urusan administrasi, aku segera pulang. Ternyata mahal juga urusan bongkar jahitan ini, sekitar tiga ratus lima puluh ribuan. Ya sudahlah, kan ini urusan nyawa. Yang jelas, aku harus memulai lagi dari awal untuk merasakan nyeri-nyeri bekas jahitan seperti usai melahirkan, setidaknya sampai dua pekan ke depan. Hmm, benar-benar pengalaman yang unik.
Sorenya, saat suami sudah pulang dari kantor, aku ceritakan hasil pemeriksaan dan tindakan yang dilakukan dokter Ria tadi pagi. Eh suamiku malah iseng bertanya, ”Terus bayar gak Jeng, operasinya?”
”Ya bayar lah mas, lumayan juga nih, tiga ratus lima puluh ribuan. Emangnya kenapa?”
”Kirain gratis. Kan masih dalam masa garansi. Hehehe” jawabnya asal.
Halah, ada-ada saja. Memangnya ini jasa servis tivi, kok ada masa garansi segala? Hahaha.