Kamis, Maret 08, 2012

Memudahkan Orang lain, Tak Mudah tapi Mungkin


"Memudahkan urusan orang lain itu, bagian dari sedeqah, Jeng"

Itu balasan singkat yang mampir di BB-bu Ani, dari pak Nang, suaminya . Pesan yang membalas laporan bu Ani bahwa rasa-rasanya mereka salah memperhitungkan harga rumah yang rencana akan mereka jual. Dari tawaran kepada umum 250 juta, lalu karena yang berminat tetangga mereka sendiri (di rumah itu) yang sangat baik, mereka turunkan menjadi 200 juta. Ternyata harga segitu pun masih ditawar lagi, yang akhirnya disepakati lah, dilepas dengan harga 175 juta.

Beberapa lama kemudian, bu Ani mengumpulkan berkas dokumen rumah tersebut. Kaget juga saat dia tahu NJOP rumah itu sekarang 233 juta, dengan luas tanah 124 meter persegi di tengah ibukota. Lha? Kemarin kok terlanjur mau dilepas 175 juta? Wah harus diskusi ulang ini dengan suami. Begitulah, instink perempunnya mulai berhitung. Ngulik soal duit.

Hal inilah yang dilaporkan bu Ani pada pak Nang, suaminya. Tapi... ternyata pak Nang menjawab dengan tenang, seperti di atas. Lalu disambungnya lagi,"Gakpapa segitu. Toh kita juga sudah mendapat manfaat dari rumah tersebut. Sudah tinggal di sana 6 tanun, dan kita juga masih untunglah kalau dibanding harga belinya dulu"

"Yee, ayah. Harganya sih seolah naik berlipat dari harga beli. Namanya juga tanah dan rumah. Didiamin aja harganya juga pasti naik sendiri. Tapi nilai uangnya belum tentu naik lho. Hari gini, inflasi suka gak kira-kira. Terus, untuk renovasi beberapa kali kan kita keluar puluhan juta juga, sebenarnya", begitu pikir bu Ani dalam hati.

Tapi benar-benar cuma dalam hati, karena bu Ani langsung mengiyakan keputusan suaminya. Ya sudah, sami'na wa atho'na. Bagaimanapun, suaminya adalah qawwam-nya.
"Semoga saja, kalaupun di dunia untungnya sangat tipis atau tidak mendapat untung, tapi keuntungan berlipat di akherat lah yang akan kami dapat," harap bu Ani.

Bu Ani mencoba legawa. Karena memang bukan sekali dua pak Nang mengambil kebijakan seperti ini. Kebijakan soal uang atau kekayaan. Membebaskan hutang jutaan pada teman yang dirasa sulit untuk terbayarkan karena penghasilannya tak tentu. Memberikan kontraprestasi satu tahun pemutihan cicilan hutang (yang total hutangnya hampir seratus juta, dijanjikan akan dicicil dalam 5 tahun) pada seorang sahabat yang rajin membayar cicilan hutangnya, karena merasa bahwa dia adalah orang yang dapat dipercaya. Juga tak merasa 'ada masalah' saat suatu kali BPKB motor mereka dipinjam teman untuk dijadikan jaminan mendapatkan pinjaman ke suatu lembaga, tetapi BPKB tersebut akhirnya hilang. Pak Nang malah bilang "Ya sudahlah, nanti motornya kita kasih aja ke siapa yang mau. Kan sudah bodong ini jadinya, Gak bisa lagi diperpanjang STNK, kecuali kalau lapor polisi bikin berita kehilangan".

Dan ... selalu saja bu Ani yang protes lebih dulu, tapi lalu tersadar saat suaminya menjelaskan dengan arifl dan menyejukkan. Ah, perempuan, kalau urusan duit memang cenderung medit.

Sungguh bun Ani bersyukur. Dari suaminya, dia banyak belajar untuk meletakkan harta di tangan saja, jangan sampai dibawa ke hati. Karena toh sebenarnya harta itu tak pernah benar-benar meerka miliki. Mereka hanya dititipi, untuk mengelolanya dengan baik, hingga akhirnya harta itu harus dikembalikan pada pemiliknya yang sejati. Bahkan bukan hanya harta, mereka pun si peminjam harta, juga akan diminta-Nya kembali.

Justru, harta yang telah disedekahkan itulah yang tidak lagi sebagai pinjaman, tapi menjadi deposito abadi mereka di sana, yang semoga devidennya nanti dapat menyelamatkan mereka sekeluarga dari api neraka, membimbing mereka beriringan menuju surga.Bismillah...

Bu Ani lantas ingat ucapan Pak Ady, pemilik rumah sebelumnya sewaktu bu Ani dan Pak Nang menemuinya untuk membeli rumah itu, yang dijual dengan harga jauh di bawah harga pasaran. Pak Ady hanya berkata, "Urip iki lak mung mampir ngombe to Mas, Mbak" (hidup ini kan hanya untuk mampir minum saja-red). Bahkan, karena kondisi keuangan mereka sangat cekak waktu itu, Pak Ady bersedia melepaskan rumahnya dengan pola tunai berjangka. 50% dibayar cash di awal, dan 50% sisanya dicicil selama setahun sesudahnya. Alhamdulillah, kemudahan yang membuat mereka akhirnya memiliki rumah, tak lagi jadi kontraktor.

Ya, dan pembelajaran dari pak Ady dalam hal memudahkan orang lain itu, benar-benar meresap dalam hati mereka berdua, lalu berniat akan meneruskan cara yang sama, Insya Allah :)

---------
pamulang, 9 maret 2012
*Terima kasih Mamas,untuk banyak pembelajaranmu tentang hakekat hidup di dunia ini yang sementara saja :)
aku punya sepuluh gudang kata
yang semua kontainernya penuh terisi
siap menyajikannya satu demi satu
untuk membuatmu ceria, elangku

tapi ternyata,
jika ada mesin pelacak percakapan
maka tiga belas tahunn kebersamaan ini
mungkin menjadi juara
untuk percakapan terpendek di dunia
seorang suami dengan istrinya
(ahahaha,....)

ya, my eagle
kaulah elang perkasa
yang bertahan dalam diam
dalam cara unikmu mencinta
bertahun lamanya

atau telah kauwariskan
seluruh gudang-gudang kata itu
padaku dan anak2mu?
hingga kau merasa cukup jadi penonton setia
untuk setiap akrobat di ruangan keluarga?

tapi, sungguh
aku tak pernah ragu
akan cinta dalam diammu
seperti saat pagi ini
sebelum kau berangkat kerja
kau usap bahuku lembut
dan berkata singkat
“Ajeng sehat yaa, sehat yaa...”
kata sederhana, reduplikasi pula
tapi membuatku tersentuh
karena sejatinya aku tahu
dua malam ini, kau pun terkapar tak berdaya

terima kasih, mamas sayang
untuk cinta dalam diammu :)

#pagi di pamulang, 9 maret 2012

JALAN CINTA

----“satu hal terbaik dari ayah untuk anak2nya adalah:
mencintai ibunya sepenuh hati”----
status itu tertulis singkat,
di dindingnya,
lelaki yang menjadi ayah dari anak2ku

status yang membuat rasaku campur aduk
…haru biru
…suka cita
…juga ragu dengan diri
sebatas apa cinta yang kuberi
hingga aku layak dicintai?

aku mencintainya
pun mencintai anak2nya
yang dititipkannya padaku
sejak ruh2 itu ditiupkan di rahimku

tapi apakah elang perkasa itu
juga para matabening nan lugu
benar bangga padaku
sebagai istri, atau ibu?

karena cinta kadang sebatas rasa
dan aku masih selalu saja
terengah memaknainya
dalam amal nyata
untuk selalu mencinta
hingga layak dicinta

lalu,
apakah cinta ini
akan mampu membuhul kuat
tuk tersenyum bersama di akhirat
menjemput surga dari Allah Maha Rahmat?

Rabbi, satukan hati-hati kami
buhulkan jalinan cinta ini
agar mengejawantah
sebagai amalan yang terus bersemi
hingga ke hidup yang abadi

~pamulang, 8maret 2012

untuk pengingat diri

Rabu, Maret 07, 2012

SAAT JAHITANKU HARUS DIBONGKAR ULANG


SAAT JAHITANKU HARUS DIBONGKAR ULANG

Ini kehamilanku yang ketiga. Meskipun di Jakarta banyak dokter kandungan perempuan, tapi ibu dokter kandungan yang satu ini sangat laris. Dokter Ria Jayanti, Sp.O.G., yang berpraktek di klinik SEHATI, klinik yang dibangun berdua dengan suaminya yang kebetulan juga seorang dokter bedah tulang.

Setiap aku ingin memeriksakan kandunganku di malam hari (karena siangnya aku dan suami bekerja), aku harus sengaja datang lebih awal untuk mendapatkan nomor urut agar nantinya tidak antri terlalu lama. Itu pun harus konfirmasi terlebih dahulu lewat telepon sejak pagi untuk mendapatkan ’kuota’ periksa hari itu. Pasiennya dalam semalam bisa mencapai tiga puluhan, dan itu baru selesai sekitar jam sebelas malam!

Pernah, aku agak telat mendaftar, baru datang ke klinik Sehati kurang lebih jam tujuh malam. Ternyata aku mendapatkan nomor urut dua puluh dua. Halah, padahal dokternya baru saja mulai praktek. Setiap pasien diperiksa sekitar seperempat jam. Waduh, lalu jam berapa giliranku? Untunglah, rumah adik iparku tidak terlalu jauh dari klinik Sehati. Aku memutuskan untuk istirahat saja dulu di rumah adik, lalu sekira jam sepuluh balik lagi ke klinik tersebut.

Tepat jam sepuluh malam, aku balik lagi ke klinik, menunggu dua pasien diperiksa, lalu tibalah giliranku. Ini pemeriksaan untuk minggu keempat puluh, usia sangat matang untuk melahirkan. Seperti dua kehamilanku sebelumnya, meski usia kehamilan sudah empat puluh pekan, tanda-tanda kontraksi tak kunjung datang. Bahkan cuma kontraksi palsu (Braxton Hicks) pun tak kurasakan. Biasanya, aku melahirkan mundur sepekan sampai sepuluh haru dari Hari Perkiraan Lahir (HPL).

Setelah dilakukan pemeriksaan dalam dan USG, ternyata di rahimku mulai terjadi pengapuran, sehingga dokter Ria memutuskan supaya aku meminum pil untuk merangsang kontraksi, pil citotek. Aku diberikan dua pil, yang satu diminum langsung saat itu juga, dan satu kapsul lagi diminum lima jam kemudian. Jika tetap tidak terjadi tanda-tanda kontraksi, dokter Ria menyarankan supaya esok hari aku datang ke klinik lagi karena akan dilakukan tindakan perangsangan kontraksi dengan cara lain.

Sepulang dari klinik, aku mencoba tidur, tapi ternyata tidak bisa terlelap. Mulas? Tidak juga. Ada rasa mulas sedikit tapi justru terasa di perut bagian atas, tidak pindah ke bagian bawah. Lima jam kemudian, aku telan pil perangsang yang kedua, lalu mencoba tidur lagi. Tetap seperti sebelumnya, tidak bisa tidur dengan nyenyak. Mulas tetap cuma terasa di bagian atas, sama sekali bukan kontraksi. Kan ini kehamilanku yang ketiga, aku sudah bisa membedakan mana mulas biasa dan yang mana mulas menjelang melahirkan.

Pagi hari jam delapan, berhubung belum ada tanda-tanda kontraksi sama sekali, aku dan suami bersiap-siap ke klinik Sehati. Tak lupa kubawa satu tas travel ukuran sedang perlengkapan untuk persalinan, yang jauh-jauh hari sudah kusiapkan.

Sampai di klinik tersebut aku menyerahkan surat pengantar dari dokter Ria pada bidan Ana. Surat pengantar itu dibuat semalam, yang isinya tindakan medis yang perlu dilakukan padaku jika aku datang. Bidan Ana memintaku untuk tidur, dan aku diberi obat perangsang mulas lagi, tapi kali ini dari bawah (vaginal).

Karena aku tak betah duduk diam menunggu, aku minta ijin pada bidan Ana untuk menunggu mulas sambil berjalan-jalan di sekitar klinik, dan dia mengiyakan. Ditemani suami, aku berjalan-jalan santai, pikirku sambil memperlancar jalannya persalinan kalau nanti sudah saatnya kontraksi. Tapi, tunggu punya tunggu, sampai azan zuhur berkumandang, tetap saja aku belum merasakan apa-apa. Bahkan kami berdua masih sempat makan siang di sebuah restoran dekat klinik.

Usai makan siang, kami berdua balik lagi ke klinik, dan bidan Ana tampak kaget melihat aku masih ’gagah’ saja, tak ada tanda-tanda mulas sedikit pun. Hmm, aku sendiri juga sudah agak pesimis obat itu ada efeknya, karena dua persalinan sebelumnya selalu post partum (lewat dari perkiraan), dan selalu dibantu dengan induksi supaya aku mengalami kontraksi.

Bidan Ana segera menelpon dokter Ria, yang kemudian menginstruksikan untuk mulai memberikan infus induksi padaku. Tapi aku minta waktu untuk sholat dhuhur dulu. Setelah sholat dhuhur, mulailah dipasang botol infus yang berisi cairan perangsang itu. Setetes demi setetes, aku masih segar bugar. Bahkan sholat Ashar, Maghrib dan Isya dapat kulakukan dengan gerakan biasa, dibantu suami yang memegangi botol infus. Hihihi lucu juga. Sambil menunggu datangnya mulas di pembaringan, aku banyak membaca buku dan majalah yang memang sudah kusiapkan, atau mengobrol ringan dengan suami. Tak lama, aku mempersilakan suami untuk tidur saja dulu, karena aku juga tak tahu kapan rasa mulas itu akan datang.

Satu botol infus sudah habis, disambung botol infus yang kedua. Sampai setengah dari botol infus kedua sudah habis, tetap belum ada reaksi dari tubuhku. Aku pasrah, karena dokter Ria pernah mengatakan, jika dua botol infus untuk induksi tak ada pengaruh, terpaksa dilakukan sectio. Hmm, padahal selama ini aku selau melahirkan dengan normal, meski selalu dibantu induksi.

Tapi, Subhanallah, sekitar jam satu malam, saat cairan infus dari botol kedua hampir habis, tiba-tiba aku mulai merasakan mulas yang sangat. Jamaknya induksi, begitu sudah mulas, nyerinya luar biasa dan hampir tak ada jeda, konrtraksinya terus-menerus, sambung menyambung menjadi satu. Kata teman yang pernah melahirkan dengan normal baik dengan atau tanpa induksi, mulas buatan dengan induksi jauh lebih menderita dari pada mulas alami. Aku sendiri malah belum tahu rasanya mulas alami, karena persalinan sebelumnya juga harus diinduksi.

Satu hal yang jelas kurasakan, begitu mulas datang, rasanya seperti ikan yang megap-megap kehabisan air, kesulitan mengatur nafas di sela-sela kontraksi yang menguat. Maka, pijatan di punggung oleh suami yang setia menemaniku menjadi penghibur yang cukup ampuh. Aku juga mencoba membiasakan diri dengan ’menghayati’ sakit tersebut sambil terus berdoa, hal yang biasa kulakukan sejak persalinanku yang pertama. Alhamdulillah, jadi terasa jauh lebih ringan.

Beberapa kali bidan Ana memeriksaku untuk mengecek kemajuan pembukaan di mulut rahim. Mulai pembukaan keenam, aku merasakan kesakitan luar biasa karena sudah sangat ingin mengejan tapi belum diperbolehkan, pembukaan belum sempurna. Bidan Ana yang baik hati itu juga kadang-kadang memberikan aba-aba setiap aku tampak keteteran saat datangnya kontraksi yang bertubi, ”Tarik nafas lewat hidung... keluarkan lewat mulut. Terus bu. Tarik nafas... Keluarkan. Tarik nafas... keluarkan”.

Aku menanyakan padanya, kapan dokter Ria akan datang. Meskipun aku tahu rumah dokter Ria ada di belakang klinik tersebut, tetapi aku khawatir kemajuan pembukaanku berjalan cepat, bisa-bisa keburu brojol sebelum beliau datang. Bidan Ana mengatakan dokter Ria sedang menuju klinik.

Jam setengah tiga pagi, pembukaan delapan. Kulihat pintu kamar bersalin dibuka, ternyata dokter Ria. Legalah hatiku. Begitu datang, beliau langsung memerintahkan bidan Ana dan para perawat untuk memasang kaki-kaki tempat berpijak lututku saat mengejan. Hmm, sebentar lagi, tiba saatnya, batinku.

”Sudah hapal kan mbak, gimana caranya mengejan yang benar? Kan sudah anak ketiga,” tanya dokter Ria.
”Duh, sudah agak lupa bu. Sudah lima tahun gak punya bayi. Bisa dijelaskan lagi, bu?” jawabku tak yakin.
Bidan Ana tersenyum, lalu dia menjelaskan panjang lebar. Mengejan harus menunggu datangnya ’ajakan’ dari tubuh yaitu saat kontraksi, kedua tangan memeluk kedua lutut, kepala dan pandangan diarahkan ke bawah, dan diusahakan mengejan tanpa suara, tapi berkonsentrasi pada usaha mengeluarkan bayi.

Pembukaan lengkap. Saatnya berjuang mengeluarkan bayi. Pengalaman sebelumnya, yang kurasakan sangat sakit justru masa-masa kontraksi menjelang pembukaan lengkap tadi. Tapi kalau urusan mengejan, bagiku malah melegakan. Aku bersiap. Sambil mengucapkan doa ”Hasbunallah wa nik’mal wakiil” bayi berhasil kukeluarkan dalam tiga kali mengejan. Alhamdulillah, lancar.

Oeeek... oeeek, tepat pukul tiga dini hari, kudengar suara tangis bayi mungilku. Subhanallah seorang bayi perempuan cantik dengan rambut tebal bergelombang, yang kelak kuberi nama dia: Kalifa Firdausy Fahrin. Alhamdulillah, selamat datang nak .

Dokter Ria meminta perawat untuk mengurusi bayi, sementara beliau dibantu bidan Ana menyelesaikan pekerjaan untuk mengeluarkan plasenta, lalu menjahit bagian kulit yang robek. Tak terlalu lama, karena tadi juga sempat kudengar suara ”kress...kress” sesaat sebelum mengejan. Itu artinya dokter Ria melakukan episiotomi, pengguntingan kulit secara sengaja untuk memudahkan jalan keluarnya bayi. Lebih baik sengaja digunting, dari pada robeknya tidak beraturan sehingga menyulitkan saat harus dilakukan penjahitan. Begitu kata literatur kedokteran yang kubaca.

Doker Ria cukup telaten. Sambil menjahit, aku diperkenankan melakukan inisiasi dini, mulai membelajarkan adik bayi menyusui. Tapi bayi mungil ini rasanya tak perlu belajar terlalu lama, karena ternyata dalam waktu sekejap dia sudah ’rakus’, terus-menerus menyusu. Ini agak berbeda dengan dua kakaknya, yang pada hari pertama kelahirannya tidak terlalu ingin menyusu. Alhamdulillah. Bahkan, saat kontrol pada siang harinya dan aku berkata padanya, ”Wah, heran nih Bu, bayinya menyusu terus gak berhenti sejak lahir tadi”.
”Lho, memang tugas bayi kan cuma dua mbak, menangis dan menyusu. Alhamdulillah kan, berarti ini bayi yang pintar. Ya dik yaa” jawab dokter Ria sambil tersenyum dan mencolek pipi adik bayi.

Sepekan kemudian, saat aku kontrol, beliau dengan telaten menjelaskan berbagai alternatif alat untuk pengaturan jarak kelahiran, dan menanyakan caraku mengatur jarak kelahiran selama ini. Saat kujawab bahwa aku menggunakan metode alami saja, beliau tersenyum bijak.
”Tidak masalah, asal kedisiplinannya dijaga” katanya mengingatkan.

Beliau juga menjelaskan bahwa jatahku untuk melahirkan normal (dengan asumsi harus induksi lagi) tinggal satu kali lagi. Aku baru paham, ternyata seperti halnya sectio, melahirkan dengan induksi pun ada batasnya. Kata beliau, tubuhku makin lama makin kebal dengan zat perangsang sehingga dikhawatirkan obat induksi tidak efektif. Hal itu sudah terlihat kemarin, untuk persalinan yang ketiga aku baru bisa merasakan kontraksi saat cairan botol infus yang kedua hampir habis.

Hari berganti. Sudah sebulan melahirkan, tapi anehnya aku masih merasakan nyeri yang sangat di tempat bekas jahitan. Bergerak sedikit saja rasanya nyeri. Apalagi kalau gerakannya buru-buru. Berjalan juga harus pelan-pelan. Padahal biasanya, luka bekas jahitan itu sudah mulai membaik masuk pekan kedua melahirkan. Ada apa ini?

Penasaran, aku mencoba bertanya ke mbak Fath, bidan tetanggaku. Setelah dia periksa, ternyata menurutnya ada bagian dari bekas jahitanku yang belum menutup sempurna, sehingga justru ada jaringan di bawah kulit yang terdesak keluar. Kaget juga aku, karena pada waktu kontrol sepekan setelah persalinan, dokter Ria mengatakan jahitanku bagus, masih belum kering tapi sudah mulai merapat. Eh, kok tiba-tiba ternyata begini. Mbak Fath menyarankan agar aku segera kontrol lagi ke dokter Ria, untuk dilakukan tindakan medis seperlunya.

Esok harinya, aku datang ke klinik dokter Ria. Setelah diperiksa, dokter Ria memutuskan untuk dilakukan bongkar jahitan dan dijahit ulang. Istilah medisnya ”ekstirpasi”. Jadi kelenjar yang melesak keluar itu dipotong, lalu dibuat sayatan baru dan dijahit ulang. Huhuhu, baru mendengar kata dibongkar jahitan saja perutku mendadak agak mulas. Mana aku periksa sendirian, karena suamiku cuma mengantar lalu berangkat ke kantornya.
Aku bertanya kenapa ada kasus seperti ini, karena jarang sekali mendengar ada kasus serupa. Tapi kata dokter Ria, kasus seperti ini cukup banyak, dan sulit untuk diketahui di pekan pertama kontrol pasca persalinan.

”Bismillah, gak apa-apa ya mbak. Masih bagus lho mbak Ning ke sini masih akhir masa nifas, jadi belum sempat campur. Soalnya bahaya banget kalau sudah campur tapi ada kasus begini, bisa terjadi pendarahan hebat” kata dokter Ria menjelaskan resikonya.
Tak ada pilihan lain, aku menurut saja diajak masuk kamar tindakan. Dibius lokal, dibantu bidan Ana, dilakukanlah ekstirpasi. Ternyata sakitnya tak seseram yang kubayangkan. Tentu saja, kan aku dibius. Cuma saat dijahit terasa sangat sakit, sampai beberapa kali aku mengaduh. Padahal biasanya, saat dijahit pasca melahirkan, aku tidak terlalu merasa sakit. Hmm, mungkin berbeda ya, karena usai melahirkan, sebelumnya kan aku sudah merasakan nyeri kontraksi yang luar biasa, sehingga nyeri saat kulit dijahit tak begitu terasa. Tetapi sekarang, tidak ada rasa nyeri apa pun, tiba-tiba ada operasi kecil jahit-menjahit kulit, jadi ambang batas sakitku belum terbiasa.

Untunglah operasi kecil itu tak berlangsung lama. Setelah kuselesaikan urusan administrasi, aku segera pulang. Ternyata mahal juga urusan bongkar jahitan ini, sekitar tiga ratus lima puluh ribuan. Ya sudahlah, kan ini urusan nyawa. Yang jelas, aku harus memulai lagi dari awal untuk merasakan nyeri-nyeri bekas jahitan seperti usai melahirkan, setidaknya sampai dua pekan ke depan. Hmm, benar-benar pengalaman yang unik.

Sorenya, saat suami sudah pulang dari kantor, aku ceritakan hasil pemeriksaan dan tindakan yang dilakukan dokter Ria tadi pagi. Eh suamiku malah iseng bertanya, ”Terus bayar gak Jeng, operasinya?”
”Ya bayar lah mas, lumayan juga nih, tiga ratus lima puluh ribuan. Emangnya kenapa?”
”Kirain gratis. Kan masih dalam masa garansi. Hehehe” jawabnya asal.
Halah, ada-ada saja. Memangnya ini jasa servis tivi, kok ada masa garansi segala? Hahaha.

Minggu, Februari 19, 2012

तेंतंग TEGAR

“ketegaran bukanlah seperti pohon bambu yang meliuk-liuk mudah patah dan berisik diterpa angin. tapi seperti pagar baja yang pondasinya kuat tertancap di dalam tanah, dindingnya kokoh menghadapi serangan musuh maupun perubahan cuaca, dan tingginya tak membuat dia besar kepala. memang kadang ia memuai saat mentari begitu jalang, tapi dalam diamnya, ia nikmati proses memuai dan menyurut itu sebagai dinamika. tanpa keluhan, tanpa penyesalan harus menjadi ‘seorang’ baja.”

perempuan yg tegar bukan berarti dia tak pernah menangis. dia hanya berusaha untuk tidak menangis karena dia tahu, dia sendiri pula yg harus menyusut air matanya :)

salah satu ciri TEGAR adalah terus IKHTIAR, diiringi dengan DOA dalam SABAR. ~ wahai masalah, aku punya Allah yang maha segala :) ~

Kamis, Januari 19, 2012

Bawang Merah Sebagai Penangkal Flu


Bawang Merah Sebagai Penangkal Flu

Pada tahun 1919 ketika flu membunuh 40 juta orang, ada seorang dokter yang mengunjungi banyak petani untuk melihat apakah ia dapat membantu mereka memerangi flu. Banyak petani dan keluarga mereka telah tertular dan banyak yang meninggal. Dokter ini mengunjungi satu keluarga petani, dan yang mengejutkannya, ternyata semua orang sangat sehat. Ketika dokter bertanya apa yang dilakukan petani yang membuatnya berbeda, sang istri menjawab bahwa ia telah menaruh bawang merah yang telah dikupas dalam sebuah piring pada setiap kamar di rumah itu, (mungkin hanya dua kamar waktu itu).

Dokter itu tidak percaya dan bertanya apakah ia dapat memiliki salah satu dari bawang merah itu untuk melihatnya di bawah mikroskop. Istri petani itu memberinya satu dan ketika dia melakukan hal ini, ia menemukan virus flu di bawang merah itu. Bawang merah ini jelas menyerap bakteri, oleh karena itu, menjaga keluarga ini tetap sehat. Saya mendengar cerita ini dari penata rambut saya di AZ. Dia mengatakan bahwa beberapa tahun lalu banyak dari karyawan yang datang bekerja dengan sakit flu dan begitu juga banyak dari pelanggannya. Tahun berikutnya ia meletakkan beberapa mangkuk bawang merah di sekitar tokonya. Yang mengejutkan, tak satu pun stafnya sakit. Ternyata berhasil .. (Bukan, dia tidak dalam bisnis bawang merah.)

Moral dari cerita ini,
belilah beberapa bawang merah dan tempatkan dalam mangkuk di sekitar rumah Anda. Jika Anda bekerja di dalam kantor, tempatkan satu atau dua di kantor atau di bawah meja Anda atau bahkan di atas suatu tempat. Cobalah dan lihat apa yang terjadi. Kami melakukannya tahun lalu dan kami tidak pernah terserang flu. Hal ini membantu Anda dan
orang-orang yang Anda cintai dari sakit,dan semua menjadi lebih baik. Jika Anda terkena flu, itu hanya mungkin menjadi satu kasus yang ringan ..

Untuk mengetahui manfaat bawang merah pada zaman yang berbeda, kita kilas balik ke tahun 1500-an. Saat itu, meletakkan bawang merah mentah di seputar rumah dipercaya menangkal wabah bubonic (pembengkakan kelenjar limfa yang disebabkan oleh kuman dan dapat menyebabkan kematian). Nampaknya, peletakan bawang merah ini didasarkan pada kepercayaan lama bahwa bawang merah mampu membersihkan udara yang tercemar oleh kuman.

Dalam sebuah buku terbitan tahun 1891 'Duret's Practical Household Cookery' disebutkan bahwa ketika seorang pasien terkena demam akibat terjangkit infeksi, maka letakkanlah bawang merah kupas dalam sebuah piring pada kamar pasien tersebut. Maka, tak satupun orang akan dapat tertular penyakit itu asalkan rajin mengganti bawang merah kupas itu setiap hari. Kupaslah bawang merah tepat pada saat akan diletakkan.

Jadi, tidak ada ruginya untuk mencoba peletakan bawang merah kupas sebagai penangkal flu.

Sumber: http://id.shvoong.com/medicine-and-health/alternative-medicine/2241634-perangi-flu-dengan-bawang-merah/#ixzz1jx4YNrRu


Tambahan:
ketika aku mengirimkannya ke seorang teman di Oregon yang secara teratur memberikan kontribusi materi masalah kesehatan kepada saya. Dia menjawab dengan pengalaman yang paling menarik tentang bawang merah :
Weldon, terima kasih untuk mengingatkan. Aku tidak tahu tentang kisah petani itu ... tapi, aku tahu bahwa saya terkena pneumonia dan tidak perlu untuk mengatakan aku sangat sakit ... aku menemukan sebuah artikel yang mengatakan untuk memotong kedua ujung sebuah bawang merah, lalu letakkan salah satu ujungnya pada sebuah garpu dan
kemudian tempatkan ujung garpu pada sebuah stoples kosong ... letakkan stoples itu di sebelah pasien yang sakit pada waktu malam hari. Dikatakan bahwa bawang merah akan menjadi hitam di pagi hari karena kuman2 ... tentu saja hal itu terjadi persis seperti itu ... bawang merah itu berantakan dan aku mulai merasa lebih baik. Hal lain yang saya baca di artikel itu bahwa bawang merah dan bawang putih yang ditempatkan di sekitar ruangan menyelamatkan banyak orang dari wabah hitam tahun yang lalu. Bawang merah dan bawang putih mempunyai kekuatan antibakteri, peralatan antiseptik.

SISA BAWANG MERAH ITU BERACUN

Bawang merah adalah sebuah magnet besar untuk bakteri, terutama bawang mentah. Anda seharusnya jangan pernah berencana untuk menyimpan sebagian dari irisan bawang merah. Hal ini tidak aman bahkan jika Anda memasukkannya ke dalam tas zip-lock dan memasukkannya ke dalam kulkas Anda. Bawang merah sudah cukup terkontaminasi hanya dengan dipotong dan dibiarkan terbuka untuk sebentar saja, sehingga hal itu dapat membahayakan Anda (dan perlu lebih waspada lagi terhadap bawang merah yang Anda masukkan ke dalam hotdog Anda di taman bisbol!) Jika Anda mengambil sisa bawang merah dan memasak seperti orang gila, anda mungkin akan baik-baik saja, tetapi jika Anda memotong sisa bawang merah dan menaruh pada sandwich Anda, Anda sedang mencari masalah.

Baik bawang merah dan kentang basah dalam salad kentang, akan menarik dan menumbuhkan bakteri bahkan lebih cepat daripada mayones komersial yang akan mulai rusak. Selain itu, anjing tidak boleh makan bawang merah. Perut anjing tidak dapat mengolah bawang merah. Harap d iin gat, adalah berbahaya untuk mengiris bawang merah dan mencoba menggunakannya untuk memasak pada hari berikutnya, bawang merah menjadi sangat beracun bahkan untuk satu malam dan menciptakan bakteri beracun yang bisa menyebabkan infeksi lambung yang buruk dikarenakan kelebihan sekresi empedu dan bahkan keracunan makanan.

Senin, Januari 09, 2012

Antara Penyandang Cacat, Anak Putus Sekolah, dan PSK


Dulu, jaman aku sekolah, seringkali banyak penyandang tuna daksa yang keliling menawarkan hasil karya mereka ke rumah-rumah. Macam-macam barang yang dibawa; keset dari perca, sapu ijuk, hiasan dari perak bakar, asbak kayu, dll. Aku ingat, Bapak punya kebijakan, selalu membeli salah satu barang yang ditawarkan. meski kami tidak membutuhkan benda itu. Semata menghargai hasi karya mereka, sekaligus membantu keuangan panti asuhan penyandang cacat tempat mereka bernaung.

Sekarang, setelah aku menikah dan tinggal di kota besar, tak tampak lagi penyandang cacat yang keliling berjualan seperti itu. Yang jamak ya pengamen atau pengemis. Kemana mereka? Apakah hasil karya mereka langsung tersalurkan ke distributor yang mengurusi penjualannya sehingga kehidupan mereka lebih terjamin?Atau justru sebaliknya?

Beberapa tahun lalu, saat aku dan teman-teman masih aktif membina anak-anak panti asuhan dinas sosial Tunas Bangsa yang menampung anak-anak putus sekolah tapi berpotensi dari berbagai pelosok nusantara, saya mengamati sebuah fenomena. Dari berbagai jenis keahlian yang ditawarkan, anak-anak perempuannya cenderung memilih keahlian sebagai kapster salon, sedang laki-lakinya memilih keahlian perbengkelan. Beberapa alumninya kadang masih kontak, dengan sms padaku atau suamiku yang membuat kami miris,, “Pak, saya gak betah kerja di tempat yang lama, majikannya bla bla bla. Ada info lowongan yang butuh montir gak Pak?”
Duh, sedihnya... tapi tak bisa membantu lebih jauh.

Lain lagi saat aku bersama teman-teman muslimah berkesempatan membina ruhani paraPSK yang ditampung di panti asuhan Karya Wanita Mulya Jaya, sedih memandang gadis-gadis belia usia SD sudah terbiasa dan dipaksa menjajakan dirinya. Entah oleh lingkungan, keluarganya atau pihak lain. Mereka masih polos-polos, dengan dandanan menor, bergaya cuek dan tampak tidak peduli dengan apapun yang kami sampaikan. Entahlah, mungkin merasa dipaksa dibina di panti tersebut (karena yang ditampung di situ adalah hasil razia). Berbeda dengan para PSK yang sudah berumur, kadang seusai acara, mereka mendekati kami. Dengan terisak mengatakan, sebenarnya ingin berhenti dari pekerjaan haram itu, tapi merasa tak punya bekal yang memadai. Kami yang cuma datang sepekan sekali untuk sekedar memberikan siraman ruhani, hanya bisa menghibur sambil miris. Mungkin, dia seusia bibi atau tanteku, tapi masih harus berkubang dalam dosa hingga entah kapan. Lalu kami mampu berbuat apa?

Untuk kalian, semua yang berkelebat-kelebat dalam bayangku saat ini, mereka para penyandang cacat itu, anak-anak putus sekolah, juga PSK yang tua maupun muda. Kudoakan semoga ada jalan keluar terbaik untuk kalian.

*Kalau sudah begini rasanya jadi pengin cepat-cepat pensiun saja deh, memenuhi panggilan hati untuk berkegiatan sebagai pekerja sosial.